Eksotisme yang Ternoda: Kekecewaan dengan Crystal of Knowledge
Eksotisme yang Ternoda: Kekecewaan dengan Crystal of Knowledge
Universitas Indonesia memiliki sebuah bangunan yang megah dan unik. Berdiri di atas tanah seluas 2,5 ha, dengan luas bangunan mencapai 30.000m2, dan menjulang sampai ke lantai ketujuh, dialah Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) atau yang lebih keren disapa The Crystal of Knowledge. Banyak yang bilang kalau bentuk Perpustakaan UI ini mirip rumah teletubies, rumah power ranger, atau rumah-rumahan lainnya. Tapi menurut saya bentuk bangunan perpustakaan UI ini lebih mirip rumah superman, also known as, The Fortress of Solitude, coba bandingkan? Bagaimana menurut anda? Jika boleh saya meneruskan argumen, mungkin UI berharap perpustakaan tersebut dapat mencetak mahasiswa yang luar biasa cerdas dan kuat ala alien dari negeri krypton. Well, unfortunatelly konsultan arsiteknya (tentu) tidak sepakat dengan argumen saya.
Versi serius dari The Crystal of Knowledge menurut Dicky Hendrasto[1] (konsultan arsitek DCM yang merancang bangunan perpustakaan UI) adalah menyatukan konsep manusia dan ilmu. Manusia yang berada didalam bangunan perpustakaan UI itu seperti menggali kemudian mendapatkan suatu ilmu yang diumpamakan crystal. Lalu ilmu tersebut ditancapkan menjadi prasasti. Manusia yang berada didalamnya pun harus nyaman dan menyatu dengan alam. Karena itulah ruang baca dibangun menghadap ke danau. Dicky juga menambahkan The Crystal of Knowledge dapat melahirkan intelektual, pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak hanya pintar tetapi juga ramah terhadap alam dan semua mahluk di muka bumi ini.
Megah dan Eksotis! Itulah kesan pertama untuk mereka yang kali pertama melihat bangunan perpustakaan ini. Bentuk bangunannya unik, tidak terkesan menampilkan arsitektur gedung-gedung perpustakaan pada umumnya. Mengusung konsep eco-friendly dengan mendominasi separuh bangunan dengan kaca dan menanam tanaman hijau diatas atap ala marina barrage. Membangun undakan batu alih-alih bangku taman menghadap danau kenanga dan gedung Rektorat UI. Kesan futuristik memang begitu terasa dari tampilannya, dan pasti menarik keingintahuan kita untuk masuk dan melihat isi dalamnya.
Namun sayang, jika kita sampai di dalamnya, kita akan bingung dengan konsep ‘Perpustakaan’ yang ditawarkan oleh UI melalui The Crystal of Knowledge ini. Meskipun ditunjang dengan sistem ICT (information and communication technology ) mutakhir yang mampu mengakses + 5 juta-an koleksi buku yang ‘tertanam’ sepanjang 3 (tiga) dari 7 (tujuh) lantai yang tersedia; Menyediakan puluhan (atau mungkin ratusan) Mac Pro untuk para mahasiswa yang biasanya hanya puas memegang Desktop Computer atau paling hebat Laptop/ Notebook; Perpustakaan ini sepertinya galau penempatan, apakah sebaiknya murni menjadi Perpustakaan atau business center.
Mengapa demikian? Coba anda susuri lantai dasar dari The Crystal of Knowledge, di pintu utama dengan bangunan terpisah anda dapat menemui pusat kebugaran dan studio cineplex mini. Tidak jauh dari pintu utama anda akan menemui bank, baru kemudian pintu menuju ruang baca dan koleksi, pintu menuju ruang komputer, lalu setelahnya disuguhi dengan beberapa fasilitas ‘belanja’ lainnya seperti toko buku, kedai kopi non-lokal, restoran, sampai mini market ada di dalam bangunan yang digembar-gemborkan sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara ini.
Bagi saya berubahnya konsep perpustakaan yang diusung oleh UI adalah perusakan terhadap hakikat perpustakaan sebenarnya. Hakikat pencarian ilmu yang diharapkan dapat mengkristal dan membantu melahirkan intelektual dan pemimpin bangsa ternoda dengan “godaan” konsumtifisme di pintu masuk gedungnya. Gembar-gembor perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara bisa jadi hanya sebatas ukuran luas lahan dan luas bangunan tanpa esensi dari kualitas dan kuantitas perpustakaan yang sesungguhnya. Buat saya hal tersebut adalah pelecehan terhadap aktualisasi Intelektualitas UI dan bentuk Eksotisme yang Ternoda.
Bagaimana sebuah perpustakaan disajikan untuk mendukung kinerja civitas akademika UI sebagai the world class research university buat saya tidak terjadi disini. Sebuah kekecewaan lain menyapa saat godaan konsumtifisme lantai dasar berhasil saya taklukkan. Dalam Undang Undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, Bab I Pasal I dinyatakan bahwa
“Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sisitem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka”.
Saya garis bawahi Undang Undang Perpustakaan di atas pada kalimat guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Sebagai perpustakaan (sekali lagi saya kutip) terbesar se-Asia Tenggara harusnya kebutuhan yang diterakan pada peraturan perundangan di atas adalah hal sepele, namun sayang fasilitas yang sedemikian megah tidak didampingi dan ditunjang dengan penyiapan terhadap infrastruktur dan tata cara pelayanan publik yang profesional. Sebagai pengunjung rutin, rasanya wajar jika saya mengulas satu demi satu kekecewaan yang saya sikapi dengan senyum sinis (atau lebih tepatnya miris) di wajah saya.
1. Koneksi internet yang luar biasa payah
Pengalaman ini terjadi beberapa minggu yang lalu saat saya memutuskan untuk melakukan work meeting di lantai 4 Perpustakaan UI; meskipun agak ramai, fasilitas ruang diskusi, ruang baca, dan ruang belajar di Perpustakaan ini cukup nyaman dan kondusif, namun sayang koneksi internet yang mencapai beberapa channel rupanya tidak cukup untuk memenuhi kepuasan mahasiswa UI dalam berselancar di dunia maya. Pada kesempatan itu saya bekerja bersama 4 (empat) rekan saya yang lain, namun hanya satu dari 4 laptop yang berhasil terkoneksi dengan internet dan itupun kecepatannya “sungguh luar biasa cepat” hanya 4Kb/s.
Bayangkan, The Crystal of Knowledge bak Fortress of Solitude, tidak bisa dipergunakan untuk mengakses data? bagaimana bisa menghasilkan intelektualitas dan pemimpin berkualitas kalau kreatifitas saja sudah terbatas teknologi, sebuah cela yang sangat mengena di mata saya.
Meskipun paham positifisme tetap terbangun “Mungkin kuotanya sudah habis…”, tetap saja muncul pertanyaan “apakah Perpustakaan UI ini tidak memperhitungkan jumlah pengunjung yang disesuaikan dengan jumlah bandwithnya??” dan “kalau begini mah, kerja di perpus harus bawa modem sendiri dong..”. Dalam kasus ini jelas kebutuhan akan informasi dan rekreasi pemustaka mulai ternoda.
2. Ketersediaan koleksi buku dan koneksi listrik
Sebetulnya saya tidak mau membahas ini, namun saya hanya ingin menyinggung sedikit apakah hanya pengalaman saya saja atau memang koleksi buku yang mencapai + 5 juta-an eksemplar itu tidak selengkap koleksi di perpustakaan yang lama, yang lusuh namun tenang nun jauh di pedalaman Universitas Indonesia. Saya hanya punya pengalaman sekali mencari 5 (lima) buku teks yang saya perlukan untuk materi kuliah saya, dan setelah kecewa kelimanya tidak bisa saya temukan melalui sistem pencarian canggih perpustakaan maka saya melipir ke toko buku sebelah untuk membelinya saja, dan memutuskan tidak akan mencari koleksi buku lagi di perpustakaan. Sejak itu saya putuskan bahwa perpustakaan ini hanya untuk bekerja. Namun bekerja di perpustakaan pun memiliki tantangan tersendiri, apakah tantangan yang selanjutnya menghadang saya? Kelangkaan koneksi listrik (baca: colokan listrik).
Menjadi kewajaran bahwa mahasiswa jaman sekarang kemana-mana bawa laptop dan minimal 1 (satu) unit telefon genggam. Jika seorang pengunjung menghadapi kondisi habis batere untuk kedua perangkat elektronik tersebut, maka minimal dibutuhan dua koneksi listrik. Jika benar bahwa pengunjung The Crystal of Knowledge rata-rata perhari sebanyak 1700 – 2000 orang, untuk memenuhi 10 persen dari kebutuhan pengunjung maka minimal harus tersedia sebanyak + 400 koneksi listrik. Namun entah saya salah menghitung atau memang saya selalu menjadi pengunjung ke 10,1 persen yang kurang beruntung, sehingga untuk amannya jika saya memutuskan beraktifitas di perpustakaan UI yang Megah dan Eksotis ini, saya harus selalu bawa kabel roll atau kabel ektension. Dalam kasus ini, tidak ada antisipasi kebutuhan sarana listrik untuk pengunjung dan akhirnya mengurangi kenyamanan belajar dan beraktifitas di perpustakaan ini.
3. Jam Operasional dan Pelayanan Publik
Menyikapi kekecewaan yang satu ini, saya memiliki pengalaman yang sedikit lebih personal dan bahkan membuat emosi. Terjadi pada Selasa 17 Januari 2012, pukul 18.35 WIB. Saya mengetahui bahwa jam operasional perpustakaan ini hanya sampai pukul 19.00 WIB setiap hari Senin – Jumat dan Pukul 14.00 WIB setiap Sabtu. Karenanya, pada hari itu pukul 18.25 (selepas mahgrib) saya dan teman-teman masih meneruskan pekerjaan kami di area diskusi lantai 2, “masih ada 30 menit, pikir kami.”
Berdasarkan pengalaman saya di perpustakaan lain, petugas akan menghimbau jika pelayanan perpustakaan akan tutup 15 menit sebelumnya, sehingga pengunjung dapat bersiap-siap untuk pergi. Namun alangkah tercengangnya saya dengan pengalaman berbeda yang saya rasakan di perpustakaan megah ini.
Pukul 18.35 menit, berlari-lari lah dua orang cleaning service; mereka berhenti di depan saklar lampu; awalnya saya hanya memperhatikan sepintas lalu, namun hal yang selanjutnya terjadi sangat menjengkelkan.
Awalnya mereka mematikan saklar ruang belajar –> saya fikir, “oh mungkin sudah tidak ada orang”; Lalu saklar lorong –> “Hmm kan masih ada kami”
Lalu dimatikanlah (saya sangat kaget luar biasa untuk ini) saklar diatas meja diskusi kami dan meja disebelah kami, dimana masih ada sekitar 5 (lima) orang yang duduk ‘khusyu’ melakukan pekerjaan masing-masing.
Sontak saya bertanya “Kok dimatiin Mbak???”, dengan jawaban sekenanya sang cleaning service menjawab “Udah Mau Tutup”, lalu mereka berlalu, meninggalkan saya yang sangat terpana….. HAH?????!!! Saya menahan diri dan menghimbau semua teman-teman (yang juga kaget luar biasa dengan perlakukan ini) untuk bergegas membenahi barang2 kami yang berceceran. Dalam diskusi kami di perjalanan pulang satu kalimat yang menjadi konsen kami, cuma segini ternyata kualitas pelayanan publik di The Crystal of Knowledge. “MATIKAN SAJA LAMPUNYA, NANTI MEREKA JUGA PERGI”…
Tidak ada sopan santun, tidak ada himbauan, dan sama sekali tidak ada permintaan maaf sebelumnya karena lampu harus dimatikan. Ck… ck.. ck.. fasilitas megah yang tidak didukung dengan penguatan sumber daya manusia yang layak. Untuk kasus ini saya sangat prihatin mengapa?
- Bukan merupakan tanggung jawab cleaning service untuk “mengusir” pengunjung;
- Bukan tanggung jawab mereka juga untuk menyampaikan himbauan “pergi” atau meminta maaf atas tindakannya–> Buat mereka itu adalah pekerjaan mereka yang sudah sehari-hari harus begitu.
- Proses pelayanan publik dari Crystal Knowledge yang tidak “cerdas” memahami arti kepuasan pelanggan dalam praktek yang sebenarnya, melainkan hanya template yang bahkan tidak di sosialisasikan. Meskipun belakangan saya tahu bahwa pada pukul 18.45 semua lampu memang dimatikan, dan pada pukul 18.55, baru akan ada himbauan dari pengeras suara bahwa perpustakaan akan ditutup. Alangkah sebuah praktek pelayanan publik yang salah kaprah; aksi dulu baru peringatan. Proses seperti itu buat saya adalah sebuah PENGUSIRAN yang SANGAT KASAR…[2]
Diluar dari itu semua pelayanan publik di The Crystal of Knowledge ini patut dipertanyakan. Silahkan anda datang ke perpustakaan sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, posisikan diri anda sebagai pengunjung ‘perdana’ yang kali pertama menjejakkan kaki di Universitas Indonesia. Percayalah, kalau anda beruntung anda bisa menemui cleaning service yang sedang duduk-duduk beristirahat di kursi (yang sedianya untuk satpam) di pintu utama untuk bertanya arah. Dan jika anda kurang beruntung, maka anda hanya akan menghadapi bangku kosong dan silahkan celingak celinguk serta bingung mau kemana.
Saya menulis opini ini karena sebagai sivitas akademika UI, saya bangga memiliki sebuah Crystal of Knowledge yang Megah dan Eksotis. Namun dilain sisi saya turut sedih bahkan kecewa, karena esensi dari intelektualitas mendadak hilang ketika saya menjejakkan kaki di dalamnya. Kepongahan, modernitas, serta gaya hidup yang lebih ‘menyapa’ saya sebagai wujud asli kemegahan dan keeksotisan The Crystal of Knowledge. Untuk ini sungguh saya sangat kecewa.
Wallahu a’lam.
[1] Sumber:
http://theproffmag.com/2012/01/naskah-perpus-ui/
[2] Pada saat tulisan ini direvisi untuk buku, perpustakaan UI sudah memberlakukan sistem himbauan yang cukup unik dengan memperdengarkan sejumlah lagu tradisional yang dimulai sejam sebelum tutup.